Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita jogja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

Misteri Jumlah Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Misteri Jumlah Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta : Kompleks pemakaman raja-raja Mataram di wilayah Imogiri saat ini merupakan salah satu tujuan wisata ziarah bagi berbagai khalayak. Makam Imogiri ini terletak di atas bukit di dusun Pajimatan, Imogiri, Bantul. Selain untuk melihat areal pemakaman yang terlihat sakral, pengunjung juga dapat menikmati suasana alam asri dan sajian kultural jawa yang khas di sekitar lokasi.

Meskipun pada dasarnya areal ini merupakan tempat yang disakralkan karena merupakan komplek milik istana mataram yang digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi para kerabat istana. Mereka termasuk dari kalangan kasultanan Mangkubumi dan Kasunanan Pakualam di Yogyakarta, maupun dari kasunanan Solo. Untuk komplek pemakaman tetap menjadi kawasan sakral dengan ijin terbatas bagi para pengunjung untuk memenuhi persyaratan jika ingin berziarah.

Waktu yang diperuntukkan hanya diberikan pada hari-hari tertentu saja. Dengan menggunakan ijin khusus serta mengenakan pakaian adat yang dipersyaratkan maka mereka diperkenankan untuk berziarah ke kawasan inti. Namun bagi pengunjung biasa jika hanya ingin melihat suasana makam dan datang ke komplek ini tanpa harus datang ke komplek inti maka diperbolehkan setiap saat.

Pengunjung dapat datang ke lokasi ini dari Yogyakarta menggunakankan jalan dari arah terminal bis baru langsung lurus ke selatan. Jalan tersebut memang jalan ke arah Imogiri dengan rambu-rambu yang jelas. Setelah sampai di lokasi, pengunjung dari tempat parkir dapat berjalan kaki menuju komplek makam. Di sini pengunjung akan dikenakan tarif retribusi dari pihak pemda Bantul.


Makam Imogiri Yogyakarta

Pengunjung apabila ingin mengetahui berbagai kisah hendaknya menggunakan jasa pemandu lokal yang akan menceritakan berbagai hal seputar kompleks makam-makam raja tersebut. Selain itu juga tersedia beberapa penjaja yang menjual buku kisah kerajaan mataram yang salah satu isinya memuat detail komplek makam raja di Imogiri itu. Tetapi karena banyak pemandu yang terkesan mengikuti pengunjung terus sehingga sering jasa inilah yang kemudian digunakan. Memang sih pemandu ini banyak memberikan info menarik seputar makam dan sejarahnya.

Pemandu ini sebagian besar laki-laki bahkan ada yang sudah cukup berumur. Mereka menggunakan pakaian adat jawa berupa pakaian lurik dengan kain, dan tidak lupa mengenakan penutup kepala berupa blangkon. Dengan nuansa adat seperti itu mereka menawarkan jasa bagi para penziarah untuk menjadi guide selama di kawasan makam itu. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang kondisi dan situasi makam yang ada. Banyak cerita sejarah yang mereka sampaikan mulai dari pendirian sejarah kerajaan mataram sampai cerita pemakaman masing-masing tokoh raja di lokasi itu. Pembagian komplek makam dan susunan makam pun mereka sampaikan dengan cukup detail.

Meskipun banyak hal yang disampaikan bahkan terkadang bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, mereka tetap setia menemani pengunjung. Terlebih saat dalam perjalanan menuju puncak bukit dimana lokasi makam berada. Bukit yang tinggi itu harus ditempuh dengan mendaki anak tangga yang berjumlah ratusan. Terkadang memang tangga cukup landai untuk memberi kesempatan istirahat bagi kaki, tetapi kebanyakan harus mendaki. Jika tidak terbiasa tentu akan merasa letih saat mendaki ini. Harus membawa bekal air atau makan kecil lainnya. Sebenarnya sih hal ini tidak begitu penting karena di lokasi itu ternyata juga banyak penjual makanan kecil dan minuman kaleng.

Pendakian anak tangga di lokasi makam ini memang memerlukan perjuangan tersendiri khususnya bagi yang belum terbiasa. Bagi orang kebanyakan, jalan melalui tangga ini akan menguras tenaga. Perjalanan bagi mereka mungkin bisa berlangsung lebih dari sepuluh menit untuk jalan sampai ke atas. Bahkan jika berlangsung dalam siang hari, meskipun lingkungan cukup teduh, tetapi akan membuat peluh bercucuran. Bagi yang tidak berniat, mungkin sebelum mendaki mungkin akan berpikir ulang dan kemudian membatalkan acara naik ke atas.

Sebenarnya ada jalan lain untuk naik ke atas bukit melalui jalan belakang. Jalan tersebut dapat digunakan dengan kendaraan bermotor, hanya saja biasanya tidak banyak orang luar yang tahu. Jalan ini biasa digunakan kalau ada pemakaman untuk membawa jenasah yang akan dimakamkan di komplek ini. Tentu saja bagi para pengunjung tidak ditunjukkan oleh para pemandu wisata untuk lewat jalan ini.

Jalan lewat naik tangga tinggi itulah yang selalu digunakan para pelancong ke Imogiri. Untuk mengatasi hal ini memang kemudian dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk berjualan minuman segar di atas. Akan tetapi bagi para pemandu diberi alternatif untuk mengusir rasa penat saat mendaki.

Langkah pertama seperti umumnya orang berjalan, tentunya adalah sering berhenti di beberapa tempat. Hal ini dapat ditandai dengan keberadaan lokasi tangga yang agak lapang dibandingkan anak tangga lainnya. Jadi pada lokasi itulah para pengunjung diajak untuk berhenti sejenak sambil memperpanjang nafas.

Langkah berikutnya adalah dengan mengatur jangan berjalan lurus ke atas, tetapi dengan jalan mengikuti alur diagonal. Dengan demikian tentunya memang langkah tidak diajak untuk cepat mendaki ke atas. Langkah akan terasa lebih ringan, karena seringkali kaki tidak dipaksa naik terus menerus, melainkan sering hanya mendatar saja pada satu anak tangga. Perlu diketahui lebar tangga yang ada di situ memang cukup lebar sekitar lima meter mungkin ada.

Meskipun di jalan ini disediakan pegangan tangan. Tetapi hal ini terdapat di sepanjang tepi pagar tembok jadi hanya di sebelah kanan kiri tangga saja. Saat mendaki itulah tidak menjadi masalah untuk tidak berpegangan, tetapi disarankan digunakan saat perjalanan pulang. Untuk jalan menurun, disarankan mengikuti tepi pagar karena di situ ada pegangan tangan. Jadi pengunjung dapat berhati-hati supaya tidak mudah jatuh.


Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Ternyata masih ada satu lagi langkah yang selalu dilakukan oleh para pemandu itu secara tidak langsung guna mengusir rasa lelah itu. Ternyata mereka dipancing perhatiannya untuk dialihkan pada hal lain yang mestinya menarik bagi pengunjung. Mereka diminta untuk menghitung jumlah anak tangga di perjalanan itu. Mulai dari anak tangga pertama saat berbelok kemudian sampai ujung di atas. Tentu saja mereka sudah punya kunci jawaban yang nantinya untuk dicocokkan dengan hasil perhitungan para pengunjung.

Bagi anak-anak dan remaja tentunya kesempatan ini mereka lakukan juga dengan asyik. Sambil berjalan naik maka akan menghitung satu per satu jumlah anak tangga yang mereka lalui tersebut. Saat beristirahat mereka akan mencocokkan satu dengan yang lainnya apakah sudah sesuai atau belum.

Pada saat awal perjalanan maka semangat menghitung anak tangga ini masih tinggi. Namun setelah pertengahan biasanya akan berkurang, namun tetap berkeingingan untuk menghitung terus. Semangat menghitung ini tentu berkurang karena rasa lelah dan juga penasaran karena kadang jumlah anak tangga yang dihitung dengan orang lain kadang sudah berbeda. Dengan adanya pengalihan fokus ke langkah menghitung anak tangga itu tentunya akan mengurangi rasa penat juga.

Jadi sebenarnya tidak penting kita dapat menghitung jumlah anak tangga itu. Baik benar ataupun tidak, tidak akan ada efeknya bagi pengunjung apakah doa yang dia panjatkan di makam ini nanti akan terkabul atau tidak. Apabila jumlah hitungannya tepat mungkin dia akan berharap akan dapat terkabul permintaannya. Hal ini sekali lagi saya tekankan itu hanya untuk mengalihkan perhatian orang saat mendaki saja supaya tidak mempedulikan rasa lelah yang akan terasa.

Tetapi memang berkunjung ke sana akan lebih baik jika tujuannya adalah untuk wisata ziarah. Kita tetap tidak boleh berdoa dan minta pada para penghuni komplek makam untuk mendapatkan sesuatu dari sana. Kalau seperti ini sih sudah tergolong dalam kategori musryik yang tidak diperbolehkan.

Jadi sebenarnya berapa sih jumlah anak tangga di komplek imogiri itu ? Aduh… saya menghitung itu 398 buah, tapi yang lain kok ada yang ketemu 390, ada yang 385, wah bingung aku. Di internet ada yang nulis 504, ada yang cuma 300. Kalau kata beberapa juru kunci itu yang benar 409. OK kalau penasaran hitung saja sendiri ya!

tempat angker di jogja


Karena memang entah percaya atau tidak, cerita-cerita angker yang erat hubungannya dengan sosok hantu memang sudah seperti jadi budaya di Indonesia. Bahkan di setiap kota selalu memiliki cerita masyarakat sendiri yang sudah ada semenjak turun-temurun. jadi, ini beberapa tempat angker di jogja........


1. Pulung Gantung
langgeran4 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bagi kamu warga Yogyakarta atau yang pernah tinggal di kota Gudeg ini pasti tahu bahwa di wilayah kabupaten Gunung Kidul ada yang bernama Pulung Gantung. Konon pulung itu sendiri adalah bola api yang bersinar dan selalu mengundang rasa ngeri. Warga percaya jika pulung itu muncul maka sebagai pembawa pesan kematian (berwarna merah terang menyala) atau membawa kebaikan (berwarna putih biru kehijauan). Misteri lain adalah di daerah ini seringkali terjadi kasus bunuh diri tanpa alasan, di mana rata-rata terjadi 9 per 100 ribu orang per tahun dan itu lebih tinggi daripada Jakarta.
2. Pantai Parangkusumo
parangkusumo3 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bahkan di era modern ini, keberadaan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan) masih menjadi legenda yang spektakuler di Indonesia. Dipercaya, kawasan pantai selatan yang dianggap angker adalah pantai Parangkusumo (tempat labuhan Keraton Yogyakarta). Pantai ini dianggap sebagai pintu gerbang gaib keraton Laut Kidul. Kabarnya, bagi mereka yang memakai warna hijau (warna favorit Ratu Kidul) bisa terseret ombak dan meninggal. Boleh percaya atau tidak, namun mitos tersebut masih bertahan sampai sekarang.
3. Keraton Yogyakarta
kraton yogyakarta1 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bangunan keraton Yogyakarta adalah sejarah Indonesia yang begitu indah. Tapi coba kamu mendatangi keraton saat malam hari. Suasana akan langsung berubah, meskipun masih tampak indah dengan lampu-lampu. Namun suasana sunyi senyap dengan hanya beberapa abdi dalem yang lewat membuat bangunan ini makin sakral. Salah satu kawasan yang dianggap misterius adalah di sekitar bangsal Proboyeksa di belakang bangsal Kencana. Sebagai tempat penyimpanan pusaka keraton, dipercaya ada makhluk bukan manusia yang menjaga. Beberapa penampakan seperti sepasang mata raksasa kerap tampak terlihat. Tak percaya? Silahkan berkunjung sendiri.
4. Gunung Merapi
dibawah kaki gunung merapi 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Selain pantai Parangkusumo, titik misteri lain di Yogyakarta yang masih terhubung adalah gunung Merapi. Setiap tahunnya, keraton Yogyakarta selalu mengadakan labuhan untuk menghormati penunggu gunung yang disebut Eyang Sapu Jagad. Untuk kamu pendaki Merapi, pernah mendengar pasar bubrah? Itu adalah pasar bangsa makhluk halus yang terlihat bagi mereka yang melamun dan saat tersadar baru mengetahui itu hanyalah hutan lebat. Selain itu kawasan Watu Gubug di gunung Merbabu adalah pintu gerbang menuju kerajaan gaib, tak hanya itu di puncak gunung Gede ada lapangan luas yang sering terdengar derap kaki kuda atau terlihat istana ghaib yang misterius.
5. Benteng Vredeburg
1C6 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Salah satu bangunan tertua peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri sampai saat ini adalah benteng Vredeburg. Bangunan ini disebut loji oleh masyarakat sekitar. Di antara bangunan di Vredeburg, ada yang disebut ‘loji setan’ dan dianggap angker. Dinamakan seperti itu karena banyak orang sering mendengar suara rintihan kesakitan dan jeritan minta tolong, sehingga dianggap itu tempat penyiksaan pejuang perang. Selain itu, gedung sebelah timur aula tengah Vredeburg juga sering terdengar suara alunan musik khas Belanda. Hmm…coba kamu buktikan sendiri ya.
6. Gereja Gothic Sayidan
000018 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bangunan dengan arsitektur gothic khas Eropa ini terletak di daerah Gondomanan. Disebut gereja karena ada simbol salib di ujung menara dan patung Yesus dengan tangan menunjuk ke arah keraton. Menurut warga sekitar, gereja ini dulunya milik orang kerutunan Tionghoa yang dibangun pada 1987 dan kemudian ditinggalkan. Beberapa orang yang pernah masuk ke dalam menyebutkan bahwa di dalam bangunan ada ruang bawah tanah, lorong panjang yang becek dan kotor, serta altar layaknya gereja. Hal yang membuatnya seram adalah tulisan-tulisan Belanda dan tentunya suasana kelam di dalam yang sudah kosong. Berani masuk ke dalam saat malam hari?
7. Gedung UGM
IMG 2194 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Sebagai saksi pendidikan Indonesia dan Yogyakarta, Universitas Gajah Mada memang sudah dibangun sejak lama dan tak heran memiliki kisah-kisah hantu yang dipercaya semenjak dulu sampai sekarang. Beberapa mahasiswa UGM menyebutkan seperti bunderan teknik, gedung registrasi, balairung, jembatan fakultas pertanian, fakultas geografi, fakultas ekonomi, sampai kedokteran adalah lokasi angker. Beberapa wujud hantu yang dipercaya mulai sosok kakek, kepala melayang, perempuan misterius sampai suara-suara bergeser dan rintihan tangis di malam hari kerap kali menghantui UGM. Nah, adakah mahasiswa UGM di sini yang mau bercerita?
8. Pesanggrahan Ambarukmo
102 9712 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Tahukah kamu kalau mall mewah Ambarukmo Plaza (Amplaz) dibangun di bekas pesanggarahan Ambarukmo peninggalan HB VII? Ya, karena lahan di mana Amplaz berdiri dulunya adalah kebon raja, kandang kuda, sampai kolam suci pendopo Gandoktengen yang dulu sering dibuat ziarah.
Mungkin karena dibangun di kawasan keramat, beberapa kisah horor dialami oleh orang-orang yang bekerja di Amplaz. Seperti cleaning service lantai 1 yang pernah melihat hantu menggantung di atas toilet, atau lantai basement HP yang pernah heboh lantaran penampakan di awal tahun 2010. Seakan kurang, di lantai 1 ada parkiran mobil yang naik dari pintu barat dan tidak pernah dibuka. Isunya pernah ada orang meninggal di dalam mobil yang terparkir di sana karena kekurangan udara.
9. Kaliurang
79733001 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Kawasan Kaliurang yang berada di kaki gunung Merapi menjadi lokasi angker yang tak terlepaskan di Yogyakarta. Warga percaya bahwa jangan pernah berpikir macam-macam saat di Kaliurang karena pasti akan menimbulkan kejadian buruk di belakangnya untuk yang melanggar. Di dekat bendungan kali kuning, Kaliurang terdapat kubangan di tengah-tengah yang di mana dipercaya tak boleh dipakai m***i karena kubangan itu adalah tempat m***i penjaga ‘benteng’. Tak percaya? Kamu mungkin bisa mencoba m***i di sana.

10. Goa Jepang 
goa jepang di bandealit jatim 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Selain Kaliurang, di kaki gunung Merapi juga terdapat Goa Jepang. Goa ini terletak di antara tebing-tebing curam. Dulu, Goa ini adalah lokasi persembunyian sekaligus jalan lintas dan penyiksaan tawanan maupun prajurit perang. Dengan banyaknya korban meninggal di dalam goa dan suasana yang semakin ke dalam semakin mencekam, banyak penampakan yang muncul di sini. Seperti suara derap prajurit, sosok prajurit perang bersimbah darah, sampai tangisan minta tolong, maupun pocong.
 

Beringin Kembar di Alun-alun Yogya

Yogya - Alun-alun Kidul Yogyakarta bukan destinasi biasa. Di sana terdapat pohon beringin kembar yang menjadi misteri. Konon, jika Anda bisa berjalan lurus dengan mata tertutup sambil melewati pohon itu, maka rezeki akan lancar. Mau coba?

Tidak hanya wisatawan lokal, mitos ini juga sudah sampai ke telinga turis mancanegara. Maka kegiatan ini seperti suatu kewajiban saat mengunjungi Alun-alun Kidul Yogyakarta. Senin (31/12/2012) lalu, saya mencoba sendiri peruntungan berjalan dengan mata tertutup di sini.

Siang itu, awan cukup gelap dan angin pun berhembus kencang, pertanda hujan akan turun. Di tengah Alun-alun kidul terdapat puluhan wisatawan 



yang juga sedang mencoba mitos ini. Mereka berjalan dengan mata tertutup berusaha melewati jalan di antara dua beringin.

Saat yang lain mulai berjalan dengan mata tertutup kain hitam, saya masih menyaksikannya dari dekat. Mencoba menganilisa mengapa mereka tidak bisa menuju garis finish: jalan di anatara dua beringin. Sebagian dari mereka ada yang melipir ke arah kanan, menerobos rerumputan yang jauh dari tujuan.

Saya mencoba menahan tawa melihatnya. Bayangkan saja, jarak sekitar 20 meter hanya perlu Anda lewati dengan mata tertutup sambil berjalan lurus. Ya, berjalan lurus, tak perlu belok ke kanan atau ke kiri. Tapi, kenapa sangat sulit?

Penasaran yang ada coba saya lepaskan dengan mencobanya langsung. Berbekal kain hitam yang kebetulan saya bawa sendiri, niat mencoba peruntungan di Alun-alun Kidul pun terwujud. 

"Huh!" tarikkan napas panjang saya keluarkan demi menghilangkan grogi. Saat itu pula doa keluar dari mulut saya, "Semoga saya beruntung."

Langkah pertama saya hentakkan ke tanah yang gembur. Disusul langkah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Tak ada yang bisa saya lihat di sela-sela kain hitam. Saya hanya pasrah dan percaya kaki ini melangkah ke tempat yang tepat. Konsentrasi masih tertuju ke garis finish.

Satu menit berlalu, di tengah konsentrasi yang coba saya bangun, terdengar suara sambil menertawakan saya, "Mau ke mana, Mas?"

Memang, saya tidak tahu itu suara siapa dan untuk siapa suara itu ditujukan. Yang jelas, konsentrasi saya sudah hilang, percaya diri pun luntur terbawanya. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya kain hitam yang mengalangi pandangan pun saya buka, sambil berharap saya berada di tempat yang seharusnya: di anatara dua beringin.

Tapi, keberuntungan ternyata belum memihak. Saya malah berjalan jauh dari target. Berbelok ke kiri, menikung 90 derajat.

Ada banyak versi sejarah mengenai pohon beringin kembar tersebut. Pada zaman dulu, Sultan Hamengkubuwono I mempunyai putri yang cantik jelita. Banyak lelaki yang ingin melamarnya untuk dijadikan istri. Sultan pun memberi tantangan bagi siapa saja yang ingin melamar putrinya, harus melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

Konon, banyak yang gagal dan tidak berhasil dalam melewati beringin kembar. Hingga akhirnya, anak Prabu Siliwangi dapat melewati beringin tersebut dan menjadi suami dari putri sultan. Menurut sultan, hanya orang yang berhati baik dan tulus yang dapat melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

Selain itu, ada versi lain yang mengatakan, beringin kembar pernah dijadikan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah.

Penasaran? Anda juga bisa mencobanya. Kegiatan ini bisa dilakukan siang atau malam hari. Jangan khawatir jika Anda tidak membawa kain penutup mata, sebab di Alun-alun Kidul sudah disediakan. Anda hanya perlu menyewanya dengan harga Rp 3.000 saja. Selamat mencoba dan semoga berhasil.

cerita jogja - Pesanggrahan Gua Siluman Yang Misterius

Tak banyak yang mengenal Pesanggrahan Gua Siluman. Maklum, pesanggrahan yang dibangun oleh Hamengku Buwono II ini memang tidak setenar Istana Air Taman Sari. Tapi, di balik ketidakpopulerannya, pesanggrahan ini sebenarnya pernah berfungsi penting bagi kalangan Kraton Yogyakarta, sebagai tempat bertapa. Bersama Pesanggrahan Warungboto, tempat ini disebut dalam salah satu tembang macapat yang berkisah tentang kemajuan yang diraih selama pemerintahan Hamengku Buwono II di Yogyakarta.Pesanggrahan Gua Siluman terletak di wilayah Wonocatur, Sleman, tepatnya di jalan yang menghubungkan Ring Road Timur Yogyakarta dengan wilayah Berbah, Bantul. Anda yang ingin berkunjung bisa melewati Jalan Raya Janti sampai perempatan Blok O, kemudian berbelok ke kanan. Setelah menemukan papan penunjuk ke arah Berbah, anda tinggal berbelok ke kiri. Pesanggrahan terletak persis di pinggi jalan, ditandai adanya tembok tinggi setebal 75 cm yang warnanya sudah mulai menghitam.Areal pesanggrahan mencakup wilayah kanan dan kiri jalan. Mungkin sedikit mengherankan, tapi itu benar. Apakah ada bagian bangunan yang terpotong dengan keberadaan jalan? Ternyata tidak.  memastikannya dengan melihat bagian bangunan di kiri jalan yang merupakan pintu gerbang masuk pesanggrahan ini. Pintu itu bersambungan dengan lorong menuju areal bangunan yang berada di kanan jalan. Artinya, lorong yang menghubungkan kompleks di kanan dan kiri jalan itu berada di persis di bawah jalan raya menuju Berbah itu.Pada bangunan pintu gerbang itu, kami menjumpai relief burung Beri di bagian atasnya. Bentuknya yang unik masih dapat dilihat jelas meski beberapa bagian sudah mengalami kerusakan karena dimakan usia. Sementara pada bagian bawah pintu, terdapat beberapa anak tangga yang menghubungkan bagian luar dengan lorong. Bila masuk lebih ke dalam, akan dijumpai lagi sebuah pintu yang bagian atasnya berbentuk lengkung, mungkin berfungsi sebagai penanda sudah memasuki lorong. sebenarnya ingin menelusuri lorong, namun kami urungkan dan lebih memilih menyeberang jalan. Selanjutnya, kami menuruni bangunan yang berada di kanan jalan dan menemunkan sebuah pintu yang berbentuk persegi. Pintu itu merupakan tembusan dari lorong yang menghubungkan bagian kanan dan kiri jalan. Tak seperti pintu utara yang dihiasi dengan relief burung Beri, pintu selatan ini sederhana, tanpa hiasan apa pun.Lewat pintu selatan itulah,  bisa mengintip bagian pesanggrahan yang lain. Terdapat bangunan yang memanjang ke timur, bersambungan langsung dengan lorong. Bangunan tersebut terbagi menjadi beberapa ruang yang masing-masing juga dihubungkan dengan sebuah pintu. Tak jauh dari pintu yang menghubungkan ke ruangan paling timur, terdapat sebuah sekat yang dihiasi ornamen-ornamen indah serupa motif kain batik. Sementara, di ruangan paling timur sendiri terdapat kolam segi empat yang hingga kini masih terisi air.Seperti banyak pesanggrahan pada masa awal Kraton Yogyakarta, Gua Siluman juga memiliki areal taman dan kolam. Saat ini, di areal taman itu ditanam beragam tanaman hias sehingga areal ini tampak hijau. Tanaman hias itu tumbuh di pinggir dua buah kolam segi empat yang juga merupakan bagian dari bangunan pesanggrahan. Bagian pinggir dan dasar kedua kolam itu sebenarnya terbuat dari plesteran yang cukup bagus, namun sayang tak bisa dilihat karena airnya tak begitu bening.Berkeliling ke sisi barat daya, terdapat satu buah kolam air lagi yang berbentuk lingkaran. Kolam itu dihiasi dengan arca burung Beri dengan paruhnya yang menonjol. Bentuknya sangat unik, terutama karena paruhnya sekaligus berfungsi sebagai pancuran air. Kolam serupa sebenarnya juga terdapat di sebelah tenggara, namun arcanya sudah mengalami kerusakan dan kolamnya mulai terpendam tanah.Hingga saat ini, beragam aktivitas kalangan Kraton selain semedi yang dilakukan di Pesanggrahan Gua Siluman belum bisa terjawab, termasuk siapa saja yang pernah bersemedi di tempat ini. Hal lain yang masih jadi misteri adalah nama bangunannya sendiri. Tembang macapat yang memuat pendirian bangunan ini mengatakan nama bangunan adalah Gua Seluman, namun papan nama yang ada di kompleks bangunan sekarang menyebut nama bangunannya Gua Siluman. Apakah Seluman dan Siluman berarti sama?Dahulu, banyak orang menganggap bangunan ini angker sehingga tak sembarangan orang bisa memasukinya. Namun kini anggapan itu sudah tak ada sebab beberapa orang bahkan menggunakan areal pesanggrahan untuk tempat ngobrol. Jadi, anda bisa mengunjungi salah satu situs bersejarah ini tanpa merasa takut.