Pages

Minggu, 28 Juli 2013

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan


Kita semua pasti tahu kalau Yogyakarta itu terkenal sebagai Kota Pelajar, Kota Kebudayaan, ataupun Kota Gudeg dengan Sri Sultan HB X sebagai Kepala Pemerintahan dan sekaligus sebagai Raja Yogyakarta. Jogja dengan berbagai mitos yang dipercaya oleh masyarakat seperti Nyi Roro Kidul sebagai Ratu Pantai Selatan ataupun Ki Sapu Jagad Sang Penjaga Gunung Merapi.
Sebenarnya masih ada 1 lagi mitos Jogjakarta yang hampir terlupakan. Yang dimaksud disini adalah GARIS LURUS yang MEMBENTANG dari UJUNG UTARA hingga SELATAN YOGYAKARTA. Konon kabarnya, dalam mitos yang selama ini diyakini, ada hubungan antara Merapi, Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan. Selain itu, garis lurus ini juga menggambarkan bahwa Gunung Merapi sebagai batas utara Yogyakarta, Pantai Selatan sebagai batas selatannya dan dengan Kraton sebagai Poros atau Pengaturnya.
Yang mendasari terbentuknya garis ini sebenarnya bukan hanya 3-4 tempat tersebut. Untuk lebih detailnya, berikut diulas satu persatu, dari ujung utara sampai selatan :
1. Gunung Merapi
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Gunung Merapi sebagai batas utara Yogyakarta dan disinilah garis lurus itu dimulai.
2. Tugu Yogyakarta
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Tugu golong gilig atau tugu pal putih (white paal) merupakan penanda batas utara kota tua Yogyakarta. Semula bangunan ini berbentuk seperti tongkat bulat (gilig) dengan sebuah bola (golong) diatasnya. Bangunan ini mengingatkan pada Washington Monument di Washington DC. Pada tahun 1867 bangunan ini rusak (patah) karena gempa bumi yang juga merusakkan situs Taman Sari. Pada masa pemerintahan Sultan HB VII bangunan ini didirikan kembali.
Namun sayangnya dengan bentuk berbeda seperti yang dapat disaksikan sekarang. Ketinggiannya pun dikurangi dan hanya sepertiga tinggi bangunan aslinya. Lama-kelamaan nama tugu golong gilig dan tugu pal putih semakin dilupakan seiring penyebutan bangunan ini sebagai Tugu Yogyakarta.
3. Malioboro
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Malioboro adalah suatu pusat perbelanjaan yang sejajar dengan jalan lurus dari Tugu jogja menuju Kraton.
4. Alun-Alun Utara
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Selain berfungsi sebagai media pertemuan Sultan dengan Rakyatnya, di Alun2 Utara juga terdapat pohon beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) yang berjumlah 64 (termasuk dua ringin kurung) yang melambangkan usia Nabi Muhammad. Dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara menjadi lambang makrokosmos (K. Dewodaru, dewo=Tuhan) dan mikrokosmos (K. Janadaru, jana=manusia).
5. Keraton Yogyakarta
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya Karaton Kasultanan Ngayogyakarta merupakan tempat tinggal resmi para Sultan yang bertahta di Kesultanan Yogyakarta. Keraton artinya tempat dimana ‘Ratu’ (bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja) bersemayam.
Keraton Yogyakarta tidak didirikan begitu saja. Banyak arti dan makna filosofis yang terdapat di seputar dan sekitar keraton. Selain itu istana Sultan Yogyakarta ini juga diselubungi oleh mitos dan mistik yang begitu kental. Filosofi dan mitologi tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan dua sisi dari sebuah mata uang yang bernama keraton.
6. Plengkung Gading
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Plengkung Gading yang bernama asli Plengkung Nirboyo merupakan pintu selatan dari komplek Kraton Yogyakarta.
7. Panggung Krapyak
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Panggung krapyak atau sering disebut Kandhang Menjangan dibangun oleh Sultan HB I dan saat ini merupakan benda cagar budaya. Gedhong panggung, demikian disebut, merupakan sebuah podium dari batu bata dengan tinggi 4 m, lebar 5 m, dan panjang 6 m. Tebal dindingnya mencapai 1 m. Bangunan ini memiliki 4 pintu luar, 8 jendela luar, serta 8 pintu di bagian dalam.
Atap bangunan dibuat datar dengan pagar pembatas di bagian tepinya. Untuk mencapainya tersedia tangga dari kayu di bagian barat laut. Bangunan bertingkat ini disekat menjadi 4 buah ruang. Dahulu tempat ini digunakan sebagai lokasi berburu menjangan oleh keluarga kerajaan.
8. Pantai Selatan (Cepuri)
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Pantai selatan dengan mitosnya Nyi Roro Kidul memang sudah terkenal. Sedangkan Cepuri, yaitu tempat Upacara Labuhan Pantai Selatan yang terletak di Pantai Parangkusumo atau sebelah barat Parangtritis. Dan disinilah garis itu diakhiri.
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan
Dan inilah Garis Lurusnya…!!!!!!
Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Mitos Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul Dengan Panembahan Senopati



Mitos Pertemuan Kanjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati

Sebelum Panembahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli (bertapa di dalam aliran sungai). Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Pantai Parang Kusumo, Laut Selatan, tiba-tiba terjadilah badai di laut yang dahsyat sehingga pohon-pohon di pesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih.
Bencana alam ini menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul di permukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut. Dalam pencariannya, Kanjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang bertapa di tempuran sungai Opak dan sungai Gajah Wong, yang tidak lain adalah Sang Panembahan Senopati.
Pada waktu Kanjeng Ratu Kidul melihat ketampanan Senopati, sang Ratu jatuh cinta. Selanjutnya Kanjeng Ratu Kidul menanyakan apa yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga melakukan tapabrata yang sangat berat dan menimbulkan bencana alam di Laut Selatan, Panembahan pun menjelaskan keinginannya.
Kanjeng Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai Penguasa tunggal di Laut Selatan dengan segala kekuasaan dan kesaktiannya. Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk membantu Panembahan Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan, dengan syarat, bila terkabul keinginannya, maka Panembahan Senopati beserta raja-raja keturunannya (yang kemudian di kenal sebagai Raja-Raja Kerajaan Mataram, hingga Raja-Raja Jawa yang berkuasa saat ini) bersedia menjadi suami Kanjeng Ratu Kidul.
Panembahan Senopati menyanggupi persyaratan Sang Ratu Kidul, namun dengan ketentuan bahwa perkawinan antara Panembahan Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan anak. Setelah terjadi kesepakatan itu maka alam kembali tenang dan ikan-ikan yang setengah mati kembali hidup.
Adanya perkawinan itu konon mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi (daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan Raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan datang.
Menurut sejarah, Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan Kanjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja Mataram, termasuk Kraton Surakarta dan Jogjakarta Hadiningrat.
Oleh karena itu maka raja-raja dari kedua kerajaan tersebut pun menepati janji Panembahan Senopati yaitu menjadi suami dari Kanjeng Ratu Kidul. Dalam perkembangannya, raja Paku Buwana III selaku suami Kanjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Sangga Buawana sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kanjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan raja Paku Buwana X.
Alkisah Paku Buwana X yang merupakan suami Ratu Kidul, sedang bermain asmara di Panggung Sangga Buwana. Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba Paku Buwana X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga, tetapi berhasil diselamatkan oleh Kanjeng Ratu Kidul.
Dalam kekagetannya itu Ratu Kidul berseru :”Anakku ngGer…………..”(Oh……….Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kanjeng Ratu Kidul itu sebagai Sabda Pandito Ratu artinya sabda Raja harus ditaati.
Sejak saat itu hubungan kedudukan mereka berdua berubah bukanlah lagi sebagai suami istri , tetapi hubungannya sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwana X selanjutnya.
Cerita lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kanjeng Ratu Angin-Angin. Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu makhluk halus saja, melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan, mulai daerah Jogjakarta sampai dengan Banyuwangi.
Camat desa Paga menerangkan bahwa daerah pesisirnya mempunyai adat bersesaji ke samudra selatan untuk Nyi Rara Kidul. Sesajinya diatur didalam rumah kecil yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut (sanggar). Juga pesisir selatan Lumajang setiap tahun mengadakan korban kambing untuknya dan orang pun banyak sekali yang datang.
Mr Welter, seorang warga Belanda yang dahulu menjadi Wakil ketua Raad van Indie, menerangkan bahwa tatkala ia masih menjadi kontrolir di Kepanjen, pernah melihat upacara sesaji tahunan di Ngliyep, salah satu pesisir pantai selatan, Jawa timur, yang khusus diadakan untuk Nyai Rara Kidul. Ditunjukkannya gambar sebuah rumah kecil dengan bilik di dalamnya berisi tempat peraduan dengan sesaji punjungan untuk Nyai Rara Kidul.
Pengalaman seorang kenalan dari Malang menyebutkan bahwa pada tajun 1955 pernah ada serombongan orang-orang yang nenepi (pergi ke tempat-tempat sepi dan keramat) dipulau karang kecil, sebelah timur Ngliyep.
Seorang di antara mereka adalah gurunya. Dengan cara tanpa busana mereka bersemadi di situ. Apa yang kemudian terjadi ialah, bahwa sang guru mendapat kemben, tanpa diketahui dari siapa asalnya. Yang dapat diceritakannya ialah bahwa ia merasa melihat sebuah rumah emas yang lampunya bersinar-sinar terang sekali.
Di Pacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian berwarna hijau gadung (hijau lembayung, bukan ungu lembayung lho….itu Lby), yang erat hubungannya dengan Nyai Rara Kidul. Bila ini dilanggar orang akan mendapat bencana. Ini di buktikan dengan terjadinya suatu malapetaka yang menimpa suami-istri bangsa Belanda beserta dua orang anaknya. Mereka bukan saja tidak percaya pada larangan tersebut, bahkan mengejek dan mencemoohkannya.
Maka pada suatu hari pergilah mereka ke pantai dengan berpakaian serba hijau. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan, karena tiba-tiba ombak besar datang dan dan kembali ke laut sambil menyambar keempat orang Belanda tersebut.
Di dalam Kraton banyak ditemukan berbagai macam lambang dalam segi kehidupan, dimulai dari bentuk dan cara mengatur bangunan, mengatur penanaman pohon yang dianggap keramat, mengatur tempat duduk, menyimpan dan memelihara pusaka, macam pakaian yang dikenakan dan cara mengenakannya, bahasa yang harus dipakai, tingkah laku, pemilihan warna dan seterusnya.
Kraton juga menyimpan dan melestarikan nilai-nilai lama. Mitos yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan komunitas Kraton adalah mitos Kanjeng Ratu Kidul.
Kedudukan mitos itu sangat menonjol, karena tanpa mengenal mitos Kanjeng Ratu Kidul, orang tidak akan dapat mengerti makna dari tarian sakral Bedhaya Ketawang, yang sejak Paku Buwana X naik tahta, setiap setahun sekali tarian itu dipergelarkan pada acara ulang tahun penobatan Raja.
Tanpa mengenal mitos itu makna Panggung Sangga Buwana akan sulit dipahami (mengenai Panggung Sangga Buwana akn di tulis secara terpisah), demikian pula mengenai mitos yang dulu dikenal rakyat sebagai ”lampor”.
‘Gung pra peri perayangan ejim
sumiwi Sang Sinom
Prabu Rara yekti gedhe dhewe.
(kutipan dari”Babad Nitik”)
Terjemahannya adalah sebagai berikut :
“segenap makhluk halus jin
bersembah pada Sang Ratu
yang besar tak bertara”
Terdapat berbagai macam versi mitos Kangjeng Ratu Kidul antara lain berdasarkan cerita pujangga Yosodipuro. Di kerajaan Kediri, terdapat seorang putra raja Jenggala yang bernama Raden Panji Sekar Taji yang pergi meninggalkan kerajaannya untuk mencari daerah kekuasaan baru.
Pada masa pencariannya sampailah ia di hutan Sigaluh yang di dalamnya terdapat pohon beringin berdaun putih dan bersulur panjang yang bernama Waringin Putih. Konon pohon itu merupakan pusat kerajaan para lelembut (mahluk halus) dengan Sang Prabu Banjaran Seta sebagai rajanya.
Berdasarkan keyakinannya akan daerah itu, Raden Panji Sekar Taji melakukan pembabatan hutan sehingga pohon Waringin Putih tersebut ikut terbabat.
Dengan terbabatnya pohon itu Sang Raja lelembut yaitu Prabu Banjaran Seta merasa senang dan dapat menyempurnakan hidupnya dengan langsung musnah ke alam sebenarnya, di mana seharusnya ia berada. Kemusnahannya berwujud suatu cahaya yang kemudian langsung masuk ke tubuh Raden Panji Sekar Taji sehingga menjadikan dirinya bertambah sakti.
Alkisah, Retnaning Dyah Angin-Angin adalah saudara perempuan Prabu Banjaran Seta yang kemudian menikah dengan Raden Panji Sekar Taji, yang selanjutnya dinobatkan sebagai Raja. Dari hasil perkawinannya, pada hari Selasa Kliwon lahirlah putri yang bernama Ratu Hayu.
Pada saat kelahiran putri ini, menurut cerita, dihadiri oleh para bidadari dan semua mahluk halus. Putri tersebut diberi nama oleh eyangnya (Eyang Sindhula), Ratu Pagedongan dengan harapan nantinya akan menjadi wanita tercantik di jagat raya.
Setelah dewasa ia benar-benar menjadi wanita yang cantik tanpa cacat dan wajahnya mirip dengan wajah ibunya bagaikan pinang dibelah dua. Pada suatu hari Ratu Hayu atau Ratu Pagedongan menangis memohon kepada eyangnya agar kecantikan yang dimilikinya tetap abadi.
Dengan kesaktian eyang Sindhula, akhirnya permohonan Ratu Pagedongan dikabulkan, ia menjadi wanita yang cantik, tidak pernah tua atau keriput dan tidak pernah mati sampai hari kiamat, dengan syarat ia akan berubah sifatnya menjadi mahluk halus yang sakti mandra guna (tidak ada yang dapat mengalahkannya).
Setelah berubah wujudnya menjadi mahluk halus, oleh sang ayah, Putri Pagedongan diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah seluruh wilayah Laut Selatan serta menguasai seluruh mahluk halus di seluruh pulau Jawa.
Selama hidupnya Ratu Pagedongan tidak mempunyai pedamping tetapi. Ia diramalkan bahwa suatu saat akan bertemu dengan raja agung (hebat) yang memerintah di tanah Jawa. Sejak saat itu ia menjadi Ratu mahluk halus dan mempunyai berkuasa penuh di Laut Selatan.
Kekuasaan Ratu Kidul di Laut Selatan juga tertulis dalam serat Wedatama yang berbunyi:
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.
Terjemahannya adalah sebagai berikut :
Tahu akan batas samudra
Semua telah dijelajahi
Dipesona nya masuk hati
Digenggam satu menjadi
Jadilah ia merajai
Syahdan Sang Ratu Kidul
Terbang tinggi mengangkasa
Lalu datang bersembah
Kalah perbawa terhadap
Junjungan Mataram
Yang maksudnya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samodra, seluruhnya sudah dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Tersebutlah Kangjeng Ratu Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan raja Mataram.
Ada versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa pada jaman kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa dan mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya jelak tidak terawat.
Oleh karena itu, Ia diusir dari kerajaan oleh saudara-saudaranya, karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan seperti dia. Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri dengan mencebur ke Laut Selatan.
Pada suatu hari rombongan kerajaan Pajajaran mengadakan selamatan di Pelabuhan Ratu. Pada saat mereka tengah khusuk berdoa, muncullah putri yang cantik dan tidak ada yang tahu mengapa putri tersebut muncul, kemudian sang putri menjelaskan, bahwa ia adalah putri kerajaan Pajajaran yang diusir oleh saudara-saudaranya dan bunuh diri di Laut Selatan, namun sekarang telah menjadi Ratu mahluk halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu Kidul (Kidul = Selatan).
Dari cerita-cerita mitos tentang Kanjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan yang bernama Karaton Bale Sokodhomas.

Misteri Jumlah Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Misteri Jumlah Anak Tangga Makam Imogiri Yogyakarta : Kompleks pemakaman raja-raja Mataram di wilayah Imogiri saat ini merupakan salah satu tujuan wisata ziarah bagi berbagai khalayak. Makam Imogiri ini terletak di atas bukit di dusun Pajimatan, Imogiri, Bantul. Selain untuk melihat areal pemakaman yang terlihat sakral, pengunjung juga dapat menikmati suasana alam asri dan sajian kultural jawa yang khas di sekitar lokasi.

Meskipun pada dasarnya areal ini merupakan tempat yang disakralkan karena merupakan komplek milik istana mataram yang digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi para kerabat istana. Mereka termasuk dari kalangan kasultanan Mangkubumi dan Kasunanan Pakualam di Yogyakarta, maupun dari kasunanan Solo. Untuk komplek pemakaman tetap menjadi kawasan sakral dengan ijin terbatas bagi para pengunjung untuk memenuhi persyaratan jika ingin berziarah.

Waktu yang diperuntukkan hanya diberikan pada hari-hari tertentu saja. Dengan menggunakan ijin khusus serta mengenakan pakaian adat yang dipersyaratkan maka mereka diperkenankan untuk berziarah ke kawasan inti. Namun bagi pengunjung biasa jika hanya ingin melihat suasana makam dan datang ke komplek ini tanpa harus datang ke komplek inti maka diperbolehkan setiap saat.

Pengunjung dapat datang ke lokasi ini dari Yogyakarta menggunakankan jalan dari arah terminal bis baru langsung lurus ke selatan. Jalan tersebut memang jalan ke arah Imogiri dengan rambu-rambu yang jelas. Setelah sampai di lokasi, pengunjung dari tempat parkir dapat berjalan kaki menuju komplek makam. Di sini pengunjung akan dikenakan tarif retribusi dari pihak pemda Bantul.


Makam Imogiri Yogyakarta

Pengunjung apabila ingin mengetahui berbagai kisah hendaknya menggunakan jasa pemandu lokal yang akan menceritakan berbagai hal seputar kompleks makam-makam raja tersebut. Selain itu juga tersedia beberapa penjaja yang menjual buku kisah kerajaan mataram yang salah satu isinya memuat detail komplek makam raja di Imogiri itu. Tetapi karena banyak pemandu yang terkesan mengikuti pengunjung terus sehingga sering jasa inilah yang kemudian digunakan. Memang sih pemandu ini banyak memberikan info menarik seputar makam dan sejarahnya.

Pemandu ini sebagian besar laki-laki bahkan ada yang sudah cukup berumur. Mereka menggunakan pakaian adat jawa berupa pakaian lurik dengan kain, dan tidak lupa mengenakan penutup kepala berupa blangkon. Dengan nuansa adat seperti itu mereka menawarkan jasa bagi para penziarah untuk menjadi guide selama di kawasan makam itu. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang kondisi dan situasi makam yang ada. Banyak cerita sejarah yang mereka sampaikan mulai dari pendirian sejarah kerajaan mataram sampai cerita pemakaman masing-masing tokoh raja di lokasi itu. Pembagian komplek makam dan susunan makam pun mereka sampaikan dengan cukup detail.

Meskipun banyak hal yang disampaikan bahkan terkadang bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, mereka tetap setia menemani pengunjung. Terlebih saat dalam perjalanan menuju puncak bukit dimana lokasi makam berada. Bukit yang tinggi itu harus ditempuh dengan mendaki anak tangga yang berjumlah ratusan. Terkadang memang tangga cukup landai untuk memberi kesempatan istirahat bagi kaki, tetapi kebanyakan harus mendaki. Jika tidak terbiasa tentu akan merasa letih saat mendaki ini. Harus membawa bekal air atau makan kecil lainnya. Sebenarnya sih hal ini tidak begitu penting karena di lokasi itu ternyata juga banyak penjual makanan kecil dan minuman kaleng.

Pendakian anak tangga di lokasi makam ini memang memerlukan perjuangan tersendiri khususnya bagi yang belum terbiasa. Bagi orang kebanyakan, jalan melalui tangga ini akan menguras tenaga. Perjalanan bagi mereka mungkin bisa berlangsung lebih dari sepuluh menit untuk jalan sampai ke atas. Bahkan jika berlangsung dalam siang hari, meskipun lingkungan cukup teduh, tetapi akan membuat peluh bercucuran. Bagi yang tidak berniat, mungkin sebelum mendaki mungkin akan berpikir ulang dan kemudian membatalkan acara naik ke atas.

Sebenarnya ada jalan lain untuk naik ke atas bukit melalui jalan belakang. Jalan tersebut dapat digunakan dengan kendaraan bermotor, hanya saja biasanya tidak banyak orang luar yang tahu. Jalan ini biasa digunakan kalau ada pemakaman untuk membawa jenasah yang akan dimakamkan di komplek ini. Tentu saja bagi para pengunjung tidak ditunjukkan oleh para pemandu wisata untuk lewat jalan ini.

Jalan lewat naik tangga tinggi itulah yang selalu digunakan para pelancong ke Imogiri. Untuk mengatasi hal ini memang kemudian dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk berjualan minuman segar di atas. Akan tetapi bagi para pemandu diberi alternatif untuk mengusir rasa penat saat mendaki.

Langkah pertama seperti umumnya orang berjalan, tentunya adalah sering berhenti di beberapa tempat. Hal ini dapat ditandai dengan keberadaan lokasi tangga yang agak lapang dibandingkan anak tangga lainnya. Jadi pada lokasi itulah para pengunjung diajak untuk berhenti sejenak sambil memperpanjang nafas.

Langkah berikutnya adalah dengan mengatur jangan berjalan lurus ke atas, tetapi dengan jalan mengikuti alur diagonal. Dengan demikian tentunya memang langkah tidak diajak untuk cepat mendaki ke atas. Langkah akan terasa lebih ringan, karena seringkali kaki tidak dipaksa naik terus menerus, melainkan sering hanya mendatar saja pada satu anak tangga. Perlu diketahui lebar tangga yang ada di situ memang cukup lebar sekitar lima meter mungkin ada.

Meskipun di jalan ini disediakan pegangan tangan. Tetapi hal ini terdapat di sepanjang tepi pagar tembok jadi hanya di sebelah kanan kiri tangga saja. Saat mendaki itulah tidak menjadi masalah untuk tidak berpegangan, tetapi disarankan digunakan saat perjalanan pulang. Untuk jalan menurun, disarankan mengikuti tepi pagar karena di situ ada pegangan tangan. Jadi pengunjung dapat berhati-hati supaya tidak mudah jatuh.


Tangga Makam Imogiri Yogyakarta

Ternyata masih ada satu lagi langkah yang selalu dilakukan oleh para pemandu itu secara tidak langsung guna mengusir rasa lelah itu. Ternyata mereka dipancing perhatiannya untuk dialihkan pada hal lain yang mestinya menarik bagi pengunjung. Mereka diminta untuk menghitung jumlah anak tangga di perjalanan itu. Mulai dari anak tangga pertama saat berbelok kemudian sampai ujung di atas. Tentu saja mereka sudah punya kunci jawaban yang nantinya untuk dicocokkan dengan hasil perhitungan para pengunjung.

Bagi anak-anak dan remaja tentunya kesempatan ini mereka lakukan juga dengan asyik. Sambil berjalan naik maka akan menghitung satu per satu jumlah anak tangga yang mereka lalui tersebut. Saat beristirahat mereka akan mencocokkan satu dengan yang lainnya apakah sudah sesuai atau belum.

Pada saat awal perjalanan maka semangat menghitung anak tangga ini masih tinggi. Namun setelah pertengahan biasanya akan berkurang, namun tetap berkeingingan untuk menghitung terus. Semangat menghitung ini tentu berkurang karena rasa lelah dan juga penasaran karena kadang jumlah anak tangga yang dihitung dengan orang lain kadang sudah berbeda. Dengan adanya pengalihan fokus ke langkah menghitung anak tangga itu tentunya akan mengurangi rasa penat juga.

Jadi sebenarnya tidak penting kita dapat menghitung jumlah anak tangga itu. Baik benar ataupun tidak, tidak akan ada efeknya bagi pengunjung apakah doa yang dia panjatkan di makam ini nanti akan terkabul atau tidak. Apabila jumlah hitungannya tepat mungkin dia akan berharap akan dapat terkabul permintaannya. Hal ini sekali lagi saya tekankan itu hanya untuk mengalihkan perhatian orang saat mendaki saja supaya tidak mempedulikan rasa lelah yang akan terasa.

Tetapi memang berkunjung ke sana akan lebih baik jika tujuannya adalah untuk wisata ziarah. Kita tetap tidak boleh berdoa dan minta pada para penghuni komplek makam untuk mendapatkan sesuatu dari sana. Kalau seperti ini sih sudah tergolong dalam kategori musryik yang tidak diperbolehkan.

Jadi sebenarnya berapa sih jumlah anak tangga di komplek imogiri itu ? Aduh… saya menghitung itu 398 buah, tapi yang lain kok ada yang ketemu 390, ada yang 385, wah bingung aku. Di internet ada yang nulis 504, ada yang cuma 300. Kalau kata beberapa juru kunci itu yang benar 409. OK kalau penasaran hitung saja sendiri ya!

tempat angker di jogja


Karena memang entah percaya atau tidak, cerita-cerita angker yang erat hubungannya dengan sosok hantu memang sudah seperti jadi budaya di Indonesia. Bahkan di setiap kota selalu memiliki cerita masyarakat sendiri yang sudah ada semenjak turun-temurun. jadi, ini beberapa tempat angker di jogja........


1. Pulung Gantung
langgeran4 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bagi kamu warga Yogyakarta atau yang pernah tinggal di kota Gudeg ini pasti tahu bahwa di wilayah kabupaten Gunung Kidul ada yang bernama Pulung Gantung. Konon pulung itu sendiri adalah bola api yang bersinar dan selalu mengundang rasa ngeri. Warga percaya jika pulung itu muncul maka sebagai pembawa pesan kematian (berwarna merah terang menyala) atau membawa kebaikan (berwarna putih biru kehijauan). Misteri lain adalah di daerah ini seringkali terjadi kasus bunuh diri tanpa alasan, di mana rata-rata terjadi 9 per 100 ribu orang per tahun dan itu lebih tinggi daripada Jakarta.
2. Pantai Parangkusumo
parangkusumo3 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bahkan di era modern ini, keberadaan Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan) masih menjadi legenda yang spektakuler di Indonesia. Dipercaya, kawasan pantai selatan yang dianggap angker adalah pantai Parangkusumo (tempat labuhan Keraton Yogyakarta). Pantai ini dianggap sebagai pintu gerbang gaib keraton Laut Kidul. Kabarnya, bagi mereka yang memakai warna hijau (warna favorit Ratu Kidul) bisa terseret ombak dan meninggal. Boleh percaya atau tidak, namun mitos tersebut masih bertahan sampai sekarang.
3. Keraton Yogyakarta
kraton yogyakarta1 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bangunan keraton Yogyakarta adalah sejarah Indonesia yang begitu indah. Tapi coba kamu mendatangi keraton saat malam hari. Suasana akan langsung berubah, meskipun masih tampak indah dengan lampu-lampu. Namun suasana sunyi senyap dengan hanya beberapa abdi dalem yang lewat membuat bangunan ini makin sakral. Salah satu kawasan yang dianggap misterius adalah di sekitar bangsal Proboyeksa di belakang bangsal Kencana. Sebagai tempat penyimpanan pusaka keraton, dipercaya ada makhluk bukan manusia yang menjaga. Beberapa penampakan seperti sepasang mata raksasa kerap tampak terlihat. Tak percaya? Silahkan berkunjung sendiri.
4. Gunung Merapi
dibawah kaki gunung merapi 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Selain pantai Parangkusumo, titik misteri lain di Yogyakarta yang masih terhubung adalah gunung Merapi. Setiap tahunnya, keraton Yogyakarta selalu mengadakan labuhan untuk menghormati penunggu gunung yang disebut Eyang Sapu Jagad. Untuk kamu pendaki Merapi, pernah mendengar pasar bubrah? Itu adalah pasar bangsa makhluk halus yang terlihat bagi mereka yang melamun dan saat tersadar baru mengetahui itu hanyalah hutan lebat. Selain itu kawasan Watu Gubug di gunung Merbabu adalah pintu gerbang menuju kerajaan gaib, tak hanya itu di puncak gunung Gede ada lapangan luas yang sering terdengar derap kaki kuda atau terlihat istana ghaib yang misterius.
5. Benteng Vredeburg
1C6 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Salah satu bangunan tertua peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri sampai saat ini adalah benteng Vredeburg. Bangunan ini disebut loji oleh masyarakat sekitar. Di antara bangunan di Vredeburg, ada yang disebut ‘loji setan’ dan dianggap angker. Dinamakan seperti itu karena banyak orang sering mendengar suara rintihan kesakitan dan jeritan minta tolong, sehingga dianggap itu tempat penyiksaan pejuang perang. Selain itu, gedung sebelah timur aula tengah Vredeburg juga sering terdengar suara alunan musik khas Belanda. Hmm…coba kamu buktikan sendiri ya.
6. Gereja Gothic Sayidan
000018 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Bangunan dengan arsitektur gothic khas Eropa ini terletak di daerah Gondomanan. Disebut gereja karena ada simbol salib di ujung menara dan patung Yesus dengan tangan menunjuk ke arah keraton. Menurut warga sekitar, gereja ini dulunya milik orang kerutunan Tionghoa yang dibangun pada 1987 dan kemudian ditinggalkan. Beberapa orang yang pernah masuk ke dalam menyebutkan bahwa di dalam bangunan ada ruang bawah tanah, lorong panjang yang becek dan kotor, serta altar layaknya gereja. Hal yang membuatnya seram adalah tulisan-tulisan Belanda dan tentunya suasana kelam di dalam yang sudah kosong. Berani masuk ke dalam saat malam hari?
7. Gedung UGM
IMG 2194 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Sebagai saksi pendidikan Indonesia dan Yogyakarta, Universitas Gajah Mada memang sudah dibangun sejak lama dan tak heran memiliki kisah-kisah hantu yang dipercaya semenjak dulu sampai sekarang. Beberapa mahasiswa UGM menyebutkan seperti bunderan teknik, gedung registrasi, balairung, jembatan fakultas pertanian, fakultas geografi, fakultas ekonomi, sampai kedokteran adalah lokasi angker. Beberapa wujud hantu yang dipercaya mulai sosok kakek, kepala melayang, perempuan misterius sampai suara-suara bergeser dan rintihan tangis di malam hari kerap kali menghantui UGM. Nah, adakah mahasiswa UGM di sini yang mau bercerita?
8. Pesanggrahan Ambarukmo
102 9712 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Tahukah kamu kalau mall mewah Ambarukmo Plaza (Amplaz) dibangun di bekas pesanggarahan Ambarukmo peninggalan HB VII? Ya, karena lahan di mana Amplaz berdiri dulunya adalah kebon raja, kandang kuda, sampai kolam suci pendopo Gandoktengen yang dulu sering dibuat ziarah.
Mungkin karena dibangun di kawasan keramat, beberapa kisah horor dialami oleh orang-orang yang bekerja di Amplaz. Seperti cleaning service lantai 1 yang pernah melihat hantu menggantung di atas toilet, atau lantai basement HP yang pernah heboh lantaran penampakan di awal tahun 2010. Seakan kurang, di lantai 1 ada parkiran mobil yang naik dari pintu barat dan tidak pernah dibuka. Isunya pernah ada orang meninggal di dalam mobil yang terparkir di sana karena kekurangan udara.
9. Kaliurang
79733001 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Kawasan Kaliurang yang berada di kaki gunung Merapi menjadi lokasi angker yang tak terlepaskan di Yogyakarta. Warga percaya bahwa jangan pernah berpikir macam-macam saat di Kaliurang karena pasti akan menimbulkan kejadian buruk di belakangnya untuk yang melanggar. Di dekat bendungan kali kuning, Kaliurang terdapat kubangan di tengah-tengah yang di mana dipercaya tak boleh dipakai m***i karena kubangan itu adalah tempat m***i penjaga ‘benteng’. Tak percaya? Kamu mungkin bisa mencoba m***i di sana.

10. Goa Jepang 
goa jepang di bandealit jatim 10 Lokasi Yang Dianggap Angker di Yogyakarta
Selain Kaliurang, di kaki gunung Merapi juga terdapat Goa Jepang. Goa ini terletak di antara tebing-tebing curam. Dulu, Goa ini adalah lokasi persembunyian sekaligus jalan lintas dan penyiksaan tawanan maupun prajurit perang. Dengan banyaknya korban meninggal di dalam goa dan suasana yang semakin ke dalam semakin mencekam, banyak penampakan yang muncul di sini. Seperti suara derap prajurit, sosok prajurit perang bersimbah darah, sampai tangisan minta tolong, maupun pocong.
 

Beringin Kembar di Alun-alun Yogya

Yogya - Alun-alun Kidul Yogyakarta bukan destinasi biasa. Di sana terdapat pohon beringin kembar yang menjadi misteri. Konon, jika Anda bisa berjalan lurus dengan mata tertutup sambil melewati pohon itu, maka rezeki akan lancar. Mau coba?

Tidak hanya wisatawan lokal, mitos ini juga sudah sampai ke telinga turis mancanegara. Maka kegiatan ini seperti suatu kewajiban saat mengunjungi Alun-alun Kidul Yogyakarta. Senin (31/12/2012) lalu, saya mencoba sendiri peruntungan berjalan dengan mata tertutup di sini.

Siang itu, awan cukup gelap dan angin pun berhembus kencang, pertanda hujan akan turun. Di tengah Alun-alun kidul terdapat puluhan wisatawan 



yang juga sedang mencoba mitos ini. Mereka berjalan dengan mata tertutup berusaha melewati jalan di antara dua beringin.

Saat yang lain mulai berjalan dengan mata tertutup kain hitam, saya masih menyaksikannya dari dekat. Mencoba menganilisa mengapa mereka tidak bisa menuju garis finish: jalan di anatara dua beringin. Sebagian dari mereka ada yang melipir ke arah kanan, menerobos rerumputan yang jauh dari tujuan.

Saya mencoba menahan tawa melihatnya. Bayangkan saja, jarak sekitar 20 meter hanya perlu Anda lewati dengan mata tertutup sambil berjalan lurus. Ya, berjalan lurus, tak perlu belok ke kanan atau ke kiri. Tapi, kenapa sangat sulit?

Penasaran yang ada coba saya lepaskan dengan mencobanya langsung. Berbekal kain hitam yang kebetulan saya bawa sendiri, niat mencoba peruntungan di Alun-alun Kidul pun terwujud. 

"Huh!" tarikkan napas panjang saya keluarkan demi menghilangkan grogi. Saat itu pula doa keluar dari mulut saya, "Semoga saya beruntung."

Langkah pertama saya hentakkan ke tanah yang gembur. Disusul langkah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Tak ada yang bisa saya lihat di sela-sela kain hitam. Saya hanya pasrah dan percaya kaki ini melangkah ke tempat yang tepat. Konsentrasi masih tertuju ke garis finish.

Satu menit berlalu, di tengah konsentrasi yang coba saya bangun, terdengar suara sambil menertawakan saya, "Mau ke mana, Mas?"

Memang, saya tidak tahu itu suara siapa dan untuk siapa suara itu ditujukan. Yang jelas, konsentrasi saya sudah hilang, percaya diri pun luntur terbawanya. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya kain hitam yang mengalangi pandangan pun saya buka, sambil berharap saya berada di tempat yang seharusnya: di anatara dua beringin.

Tapi, keberuntungan ternyata belum memihak. Saya malah berjalan jauh dari target. Berbelok ke kiri, menikung 90 derajat.

Ada banyak versi sejarah mengenai pohon beringin kembar tersebut. Pada zaman dulu, Sultan Hamengkubuwono I mempunyai putri yang cantik jelita. Banyak lelaki yang ingin melamarnya untuk dijadikan istri. Sultan pun memberi tantangan bagi siapa saja yang ingin melamar putrinya, harus melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

Konon, banyak yang gagal dan tidak berhasil dalam melewati beringin kembar. Hingga akhirnya, anak Prabu Siliwangi dapat melewati beringin tersebut dan menjadi suami dari putri sultan. Menurut sultan, hanya orang yang berhati baik dan tulus yang dapat melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

Selain itu, ada versi lain yang mengatakan, beringin kembar pernah dijadikan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah.

Penasaran? Anda juga bisa mencobanya. Kegiatan ini bisa dilakukan siang atau malam hari. Jangan khawatir jika Anda tidak membawa kain penutup mata, sebab di Alun-alun Kidul sudah disediakan. Anda hanya perlu menyewanya dengan harga Rp 3.000 saja. Selamat mencoba dan semoga berhasil.

cerita jogja - Pesanggrahan Gua Siluman Yang Misterius

Tak banyak yang mengenal Pesanggrahan Gua Siluman. Maklum, pesanggrahan yang dibangun oleh Hamengku Buwono II ini memang tidak setenar Istana Air Taman Sari. Tapi, di balik ketidakpopulerannya, pesanggrahan ini sebenarnya pernah berfungsi penting bagi kalangan Kraton Yogyakarta, sebagai tempat bertapa. Bersama Pesanggrahan Warungboto, tempat ini disebut dalam salah satu tembang macapat yang berkisah tentang kemajuan yang diraih selama pemerintahan Hamengku Buwono II di Yogyakarta.Pesanggrahan Gua Siluman terletak di wilayah Wonocatur, Sleman, tepatnya di jalan yang menghubungkan Ring Road Timur Yogyakarta dengan wilayah Berbah, Bantul. Anda yang ingin berkunjung bisa melewati Jalan Raya Janti sampai perempatan Blok O, kemudian berbelok ke kanan. Setelah menemukan papan penunjuk ke arah Berbah, anda tinggal berbelok ke kiri. Pesanggrahan terletak persis di pinggi jalan, ditandai adanya tembok tinggi setebal 75 cm yang warnanya sudah mulai menghitam.Areal pesanggrahan mencakup wilayah kanan dan kiri jalan. Mungkin sedikit mengherankan, tapi itu benar. Apakah ada bagian bangunan yang terpotong dengan keberadaan jalan? Ternyata tidak.  memastikannya dengan melihat bagian bangunan di kiri jalan yang merupakan pintu gerbang masuk pesanggrahan ini. Pintu itu bersambungan dengan lorong menuju areal bangunan yang berada di kanan jalan. Artinya, lorong yang menghubungkan kompleks di kanan dan kiri jalan itu berada di persis di bawah jalan raya menuju Berbah itu.Pada bangunan pintu gerbang itu, kami menjumpai relief burung Beri di bagian atasnya. Bentuknya yang unik masih dapat dilihat jelas meski beberapa bagian sudah mengalami kerusakan karena dimakan usia. Sementara pada bagian bawah pintu, terdapat beberapa anak tangga yang menghubungkan bagian luar dengan lorong. Bila masuk lebih ke dalam, akan dijumpai lagi sebuah pintu yang bagian atasnya berbentuk lengkung, mungkin berfungsi sebagai penanda sudah memasuki lorong. sebenarnya ingin menelusuri lorong, namun kami urungkan dan lebih memilih menyeberang jalan. Selanjutnya, kami menuruni bangunan yang berada di kanan jalan dan menemunkan sebuah pintu yang berbentuk persegi. Pintu itu merupakan tembusan dari lorong yang menghubungkan bagian kanan dan kiri jalan. Tak seperti pintu utara yang dihiasi dengan relief burung Beri, pintu selatan ini sederhana, tanpa hiasan apa pun.Lewat pintu selatan itulah,  bisa mengintip bagian pesanggrahan yang lain. Terdapat bangunan yang memanjang ke timur, bersambungan langsung dengan lorong. Bangunan tersebut terbagi menjadi beberapa ruang yang masing-masing juga dihubungkan dengan sebuah pintu. Tak jauh dari pintu yang menghubungkan ke ruangan paling timur, terdapat sebuah sekat yang dihiasi ornamen-ornamen indah serupa motif kain batik. Sementara, di ruangan paling timur sendiri terdapat kolam segi empat yang hingga kini masih terisi air.Seperti banyak pesanggrahan pada masa awal Kraton Yogyakarta, Gua Siluman juga memiliki areal taman dan kolam. Saat ini, di areal taman itu ditanam beragam tanaman hias sehingga areal ini tampak hijau. Tanaman hias itu tumbuh di pinggir dua buah kolam segi empat yang juga merupakan bagian dari bangunan pesanggrahan. Bagian pinggir dan dasar kedua kolam itu sebenarnya terbuat dari plesteran yang cukup bagus, namun sayang tak bisa dilihat karena airnya tak begitu bening.Berkeliling ke sisi barat daya, terdapat satu buah kolam air lagi yang berbentuk lingkaran. Kolam itu dihiasi dengan arca burung Beri dengan paruhnya yang menonjol. Bentuknya sangat unik, terutama karena paruhnya sekaligus berfungsi sebagai pancuran air. Kolam serupa sebenarnya juga terdapat di sebelah tenggara, namun arcanya sudah mengalami kerusakan dan kolamnya mulai terpendam tanah.Hingga saat ini, beragam aktivitas kalangan Kraton selain semedi yang dilakukan di Pesanggrahan Gua Siluman belum bisa terjawab, termasuk siapa saja yang pernah bersemedi di tempat ini. Hal lain yang masih jadi misteri adalah nama bangunannya sendiri. Tembang macapat yang memuat pendirian bangunan ini mengatakan nama bangunan adalah Gua Seluman, namun papan nama yang ada di kompleks bangunan sekarang menyebut nama bangunannya Gua Siluman. Apakah Seluman dan Siluman berarti sama?Dahulu, banyak orang menganggap bangunan ini angker sehingga tak sembarangan orang bisa memasukinya. Namun kini anggapan itu sudah tak ada sebab beberapa orang bahkan menggunakan areal pesanggrahan untuk tempat ngobrol. Jadi, anda bisa mengunjungi salah satu situs bersejarah ini tanpa merasa takut.